Minggu, 20 November 2016

MILAD KE- 5O, KOHATI UNTUK INDONESIA




Kohati untuk indonesia
Didalam mukadimmah Pedoman Dasar Kohati  dengan mengutip sabda Rasulullah Saw yang berbunyi  Perempuan adalah tiang negara, bila kaum perempuan baik (berakhlak Karimah) maka negaranya baik dan bila perempunnya rusak (amoral) maka rusaklah negara itu”.Itu artinya bahwa,  sejak tahun 1966, Kohati masih memandang bahwa kaum perempuan masih perlu untuk diberdayakan sesuai dengan kodarat kemanusiaanya.
Tanpa terasa sudah setengah abad,korps hmi wati atau dikenal dengan kohati mendampingi hmi dalam membangun negeri ini. Tepatnya 50 tahun silam, 19 tahun setelah berdirinya hmi yaitu pada tanggal 17 september 1966, yang bertepatan dengan 2 jumadil akhir 1838 hijriah pada kongres ke VIII di solo.KOHATI adalah badan Khusus HMI, yang bertugas untuk membina,mengembangkan dan meningkatkan potensi HMI-Wati dalam wacana dan dinamika gerakan keperempuanan. Keberadaanya yang bersifat semi otonom yang lahir dari tubuh hmi, mencakup wilayah yang lebih luas bukan hanya intern kohati itu sendiri, melainkan untuk lingkungan kampus, masyarakat dan juga pemerintah untuk kepentingan umat. Layaknya KOHATI dari Indonesia dan Untuk Indonesia.
Salah satu tujuan berdirinya kohati ditubuh hmi merupakan jawaban dari setiap persoalan yang membelit HmI wati. Pada awalnya motif dari berdirinya kohati adalah karena depertemen keputrian yang tidak mampu lagi menampung aspirasi hmi wati dan adanya gejolak yang terjadi dimasyarakat terkait dengan PKI. Pembentukan kohati sebagai perang tanding terhadap idiologi PKI yang masuk melalui GERWANI. Jika dikatakan HMI merupakan kader ummat dan kader bangsa, dengan demikian HMI-Wati turut serta bersamanya menjadi kader wanita islam. Seperti yang termaktub dalam PDK Pasal 7, berkaitan dengan peran KOHATI  sebagai pencetak dan Pembina Muslimah sejati untuk menegekkan dan mengembangkan nila-nilai ke –Islamanan dan Ke-Indonesiaan.
Bukan lagi sebuah hal yang tabu, bahwa perempuan sebagai kaum yang termarginalkan, sebagai objek kekerasan seksual dan  yang dinomor duakan serta diskriminasi adalah hal yang sangat akrab dengan kehidupan perempuan. Menurut Lembar Fakta Catatan Tahunan Komisi Nasional perempuan pada 2016, kekerasan terhadap permpuan semakin meluas dan meningkat. Tercatat  kekerasan seksual ada pada peringkat ke dua. Bentuk kekerasan seksual tertinggi adalah perkosaan sebanyak 2.399 kasus. Diikuti oleh pencabulan sebanyak 601 kasus dan pelecehan seksual sebanyak 166 kasus. Untuk itu sudah sebuah kewajiban bagi kohati sebagai orgnisasi keperempuanan yang berbasiskan keislaman demi menciptakan masyarakat madani yang diridhoi oleh Allah SWT turut serta dalam meminilisasir kedzoliman yang terjadi untuk  kemaslahatan umat.
Di era globalisasi ini banyak bermunculan isu kesetaraan gender yang disuarakan oleh perempuan di berbagai belahan dunia, sebagai salah satu bentuk  “ Pemberotakan kaum perempuan” terhadap ketidakadilan.Salah satunya adalah kelompok-kelompok feminisme yang mengaku sebagai “ pejuang kesetaraan Gender” dengan paham dan idiologi yang tentu saja bertentangan dengan ajaran Islam. Salah satu tokohnya yang cukup terkenal yaitu Jassie Bernad mengatakan bahwa “Perkawinan adalah neraka bagi perempuan “. Disinilah peran Kohati diperlukan untuk memberikan contoh dengan menyuarakan kepada publik bagaimana kesetaraan gender yang ideal,yang menempatkan perempuan dan laki-laki sesuai koridornya. Lagipula Islam menjelaskan bahwa di sisi Allah SWT, manusia baik laki-laki mapun perempuan mempunyai derajat yangs sama , yang membedakan hanyalah ketaqwaannya.
Namun yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah kohati moderen mampu berkarya seperti 2 srikandi HmI,Maisyarah Hilal dan Siti Zainah? Keduanya bersama 13 orang mahasiswa mampu mebentuk sebuah organisasi yang kita kenal sebagai HmI menjadi sebuah oraganisasi yang produktif dan memberikan banyak kontribusi untuk negara ini. Mampukah  peran kohati moderen membina perempuan Indonesia menjadi potret perempuan ideal yang bernuansa Islami dan Ke-Indonesiaan?
Menjadi KOHATI yang Ideal
            Sesungguhnya HMI memberikan kesempatan kepada HmI-Wati untuk berkarya dan memberikan  manfaat untuk masyarakat. Bahkan Islam sendiri juga memberikan ruang yang luas bagi wanita untuk mengaktualisasikan potensi dirinya.
·         Memiliki Ilmu Pengetahuan
Kohati diharapkan mampu menjadi teladan bagi perempuan Islam Indonesia yang berintelektual, berjiwa sosial, menjadi muslimah sejati dan melahirkan gagasan yang mampu membawa perubahan bagi bangsa. Kohati harus memiliki ilmu pengetahuan yang lebih dari pada perempuan-perempuan lainnya. Dengan ilmu ,derajat perempuan akan terangkat dan terlihat eksistensinya.Dengan pengetahuan yang dimiliki, kohati dapat mentransfer ilmu yang dimiliki kepada perempuan indonesia, agar semua perempuan indonesia menjadi perempuan yang cerdas. Sehingga posisi perempuan Indonesia di masyarakat tidak akan pernah termarjinalkan.
·         Memiliki penghasilan sendiri
Pada dasarnya KOHATI adalah mahasiswa, tetapi dalam ber-HmI, kohati mendapatkan banyak pengalaman seperti kewirausahaan dan pelatihan berbisnis lainnya. Ketika, KOHATI berada ditengah-tengah masyarakat, bekal yang dimiliki dapat digunakan untuk masyarakat. KOHATI memberikan kesadaran kepada masyarakat, supaya perempuan jangan terlalu bergantung kepada laki-laki. Justru ketergantungan perempuan terhadap laki-lakilah yang membuat perempuan dianggap lemah dan selalu berada di bawah laki-laki.
·         Berjiwa Sosial
Islam sangat menghargai perempuan yangmau berbagi dengan orang lain. Justru Allah sangat membenci orang yang kikir. Seperti sabda Rasulullah yang berbunyi ” Tangan diatas lebih baik, dari pada tangan di bawah”. Dengan berbagi, posisi perempuan akan semakin hebat baik dimata manusia maupun di mata Allah SWT.
·         Menghiasi diri dengan Akhlak Terpuji
Seseorang akan menjadi mulia dengan akhlak terpuji dan seseorang akan menjadi terhina apabila tidak berakhlak mulia.
Di Indonesia sendiri, salah satu tokoh emansipasi wanita adalah R. A. Kartini. Bukunya yang merupakan kumpulan surat yang dibukukan oleh Mr. J.H Abendanon dengan judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya adalah “Dari kegelapan menuju Cahaya” yang diterbitkan pada tahun 1911. Yang konon katanya R.A. Kartini mendapatkan inspirasi dari kalimat kitab suci Al-Quran ‘ mina dzulumati ila nuur’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar