Kohati untuk
indonesia
Didalam
mukadimmah Pedoman Dasar Kohati dengan
mengutip sabda Rasulullah Saw yang berbunyi
“ Perempuan adalah tiang negara,
bila kaum perempuan baik (berakhlak Karimah) maka negaranya baik dan bila
perempunnya rusak (amoral) maka rusaklah negara itu”.Itu artinya
bahwa, sejak tahun 1966, Kohati masih
memandang bahwa kaum perempuan masih perlu untuk diberdayakan sesuai dengan
kodarat kemanusiaanya.
Tanpa
terasa sudah setengah abad,korps hmi wati atau dikenal dengan kohati mendampingi
hmi dalam membangun negeri ini. Tepatnya 50 tahun silam, 19 tahun setelah
berdirinya hmi yaitu pada tanggal 17 september 1966, yang bertepatan dengan 2
jumadil akhir 1838 hijriah pada kongres ke VIII di solo.KOHATI adalah badan
Khusus HMI, yang bertugas untuk membina,mengembangkan dan meningkatkan potensi
HMI-Wati dalam wacana dan dinamika gerakan keperempuanan. Keberadaanya yang
bersifat semi otonom yang lahir dari tubuh hmi, mencakup wilayah yang lebih
luas bukan hanya intern kohati itu sendiri, melainkan untuk lingkungan kampus,
masyarakat dan juga pemerintah untuk kepentingan umat. Layaknya KOHATI dari
Indonesia dan Untuk Indonesia.
Salah
satu tujuan berdirinya kohati ditubuh hmi merupakan jawaban dari setiap
persoalan yang membelit HmI wati. Pada awalnya motif dari berdirinya kohati
adalah karena depertemen keputrian yang tidak mampu lagi menampung aspirasi hmi
wati dan adanya gejolak yang terjadi dimasyarakat terkait dengan PKI.
Pembentukan kohati sebagai perang tanding terhadap idiologi PKI yang masuk
melalui GERWANI. Jika dikatakan HMI merupakan kader ummat dan kader bangsa,
dengan demikian HMI-Wati turut serta bersamanya menjadi kader wanita islam.
Seperti yang termaktub dalam PDK Pasal 7, berkaitan dengan peran KOHATI sebagai pencetak dan Pembina Muslimah sejati
untuk menegekkan dan mengembangkan nila-nilai ke –Islamanan dan Ke-Indonesiaan.
Bukan
lagi sebuah hal yang tabu, bahwa perempuan sebagai kaum yang termarginalkan,
sebagai objek kekerasan seksual dan yang
dinomor duakan serta diskriminasi adalah hal yang sangat akrab dengan kehidupan
perempuan. Menurut Lembar Fakta Catatan Tahunan Komisi Nasional perempuan pada
2016, kekerasan terhadap permpuan semakin meluas dan meningkat. Tercatat kekerasan seksual ada pada peringkat ke dua.
Bentuk kekerasan seksual tertinggi adalah perkosaan sebanyak 2.399 kasus.
Diikuti oleh pencabulan sebanyak 601 kasus dan pelecehan seksual sebanyak 166
kasus. Untuk itu sudah sebuah kewajiban bagi kohati sebagai orgnisasi
keperempuanan yang berbasiskan keislaman demi menciptakan masyarakat madani
yang diridhoi oleh Allah SWT turut serta dalam meminilisasir kedzoliman yang
terjadi untuk kemaslahatan umat.
Di
era globalisasi ini banyak bermunculan isu kesetaraan gender yang disuarakan
oleh perempuan di berbagai belahan dunia, sebagai salah satu bentuk “ Pemberotakan kaum perempuan” terhadap
ketidakadilan.Salah satunya adalah kelompok-kelompok feminisme yang mengaku
sebagai “ pejuang kesetaraan Gender” dengan paham dan idiologi yang tentu saja
bertentangan dengan ajaran Islam. Salah satu tokohnya yang cukup terkenal yaitu
Jassie Bernad mengatakan bahwa “Perkawinan adalah neraka bagi perempuan “. Disinilah
peran Kohati diperlukan untuk memberikan contoh dengan menyuarakan kepada
publik bagaimana kesetaraan gender yang ideal,yang menempatkan perempuan dan
laki-laki sesuai koridornya. Lagipula Islam menjelaskan bahwa di sisi Allah
SWT, manusia baik laki-laki mapun perempuan mempunyai derajat yangs sama , yang
membedakan hanyalah ketaqwaannya.
Namun
yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah kohati moderen mampu berkarya seperti
2 srikandi HmI,Maisyarah Hilal dan Siti Zainah? Keduanya bersama 13 orang
mahasiswa mampu mebentuk sebuah organisasi yang kita kenal sebagai HmI menjadi
sebuah oraganisasi yang produktif dan memberikan banyak kontribusi untuk negara
ini. Mampukah peran kohati moderen membina
perempuan Indonesia menjadi potret perempuan ideal yang bernuansa Islami dan
Ke-Indonesiaan?
Menjadi KOHATI yang Ideal
Sesungguhnya HMI
memberikan kesempatan kepada HmI-Wati untuk berkarya dan memberikan manfaat untuk masyarakat. Bahkan Islam
sendiri juga memberikan ruang yang luas bagi wanita untuk mengaktualisasikan
potensi dirinya.
·
Memiliki
Ilmu Pengetahuan
Kohati
diharapkan mampu menjadi teladan bagi perempuan Islam Indonesia yang
berintelektual, berjiwa sosial, menjadi muslimah sejati dan melahirkan gagasan
yang mampu membawa perubahan bagi bangsa. Kohati harus memiliki ilmu
pengetahuan yang lebih dari pada perempuan-perempuan lainnya. Dengan ilmu
,derajat perempuan akan terangkat dan terlihat eksistensinya.Dengan pengetahuan
yang dimiliki, kohati dapat mentransfer ilmu yang dimiliki kepada perempuan
indonesia, agar semua perempuan indonesia menjadi perempuan yang cerdas. Sehingga
posisi perempuan Indonesia di masyarakat tidak akan pernah termarjinalkan.
·
Memiliki
penghasilan sendiri
Pada dasarnya
KOHATI adalah mahasiswa, tetapi dalam ber-HmI, kohati mendapatkan banyak
pengalaman seperti kewirausahaan dan pelatihan berbisnis lainnya. Ketika,
KOHATI berada ditengah-tengah masyarakat, bekal yang dimiliki dapat digunakan
untuk masyarakat. KOHATI memberikan kesadaran kepada masyarakat, supaya
perempuan jangan terlalu bergantung kepada laki-laki. Justru ketergantungan
perempuan terhadap laki-lakilah yang membuat perempuan dianggap lemah dan
selalu berada di bawah laki-laki.
·
Berjiwa
Sosial
Islam sangat
menghargai perempuan yangmau berbagi dengan orang lain. Justru Allah sangat
membenci orang yang kikir. Seperti sabda Rasulullah yang berbunyi ” Tangan
diatas lebih baik, dari pada tangan di bawah”. Dengan berbagi, posisi perempuan
akan semakin hebat baik dimata manusia maupun di mata Allah SWT.
·
Menghiasi
diri dengan Akhlak Terpuji
Seseorang akan
menjadi mulia dengan akhlak terpuji dan seseorang akan menjadi terhina apabila
tidak berakhlak mulia.
Di
Indonesia sendiri, salah satu tokoh emansipasi wanita adalah R. A. Kartini. Bukunya
yang merupakan kumpulan surat yang dibukukan oleh Mr. J.H Abendanon dengan
judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya adalah “Dari kegelapan
menuju Cahaya” yang diterbitkan pada tahun 1911. Yang konon katanya R.A.
Kartini mendapatkan inspirasi dari kalimat kitab suci Al-Quran ‘ mina dzulumati
ila nuur’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar